FILSAFAT ILMU
Makalah ini diajukan untuk
memenuhi persyaratan penambahan nilai mata kuliah filsafat ilmu
Dosen pengampu:
---------------------------------------------
Nama : Adi Mulyono
Jurusan : Pendidikan Fisika
NIM : 1210207003

FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN
GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Pengetahuan
merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam
mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan
tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya.
Pengetahuan
dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai
bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang
melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut
suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti
ini disebut penalaran.
Penalaran
merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai
dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara
tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid)
kalau proses penarikannya dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara
penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat
didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”.
Pengetahuan
banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu. Ilmu merupakan bagian dari
pengetahuan yang objek telaahnya adalah dunia empiris dan proses pendapatkan
pengetahuannya sangat ketat yaitu menggunakan metode ilmiah. Ilmu menggabungkan
logika deduktif dan induktif, dan penentu kebenaran ilmu tersebut adalah dunia
empiris yang merupakan sumber dari ilmu itu sendiri.
B. RUMUSAN
MASALAH
- Apakah struktur ilmu
pengetahuan itu ?
- Bagaimana sifat-sifat ilmu
pengetahuan itu ?
- Apa sajakah pembagian jenis
ilmu pengetahuan ?
- Dimana batas-batas pengkajian
ilmu pengetahuan ?
- Apakah Ontologi itu?
C. TUJUAN
1. Mengetahui struktur ilmu pengetahuan
2. Mengetahui sifat-sifat ilmu
pengetahuan
3. Mengetahui pembagian jenis ilmu
pengetahuan
4. Mengetahui batas-batas pengkajian
ilmu pengetahuan
5. Mengatahui apa Intilogi Pengetahuan
itu
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sistem,
Struktur, dan susunan Ilmu Pengetahuan
Peter R
Senn dalam Ilmu Dalam Perspektif (Jujun Suriasumantri) meskipun tidak
secara gamblang ia menyampaikan bahwa ilmu memiliki bangunan struktur Van
Peursen menggambarakan lebih tegas bahwa “Ilmu itu bagaikan bangunan yang
tersusun dari batu bata. Batu atau unsur dasar tersebut tidak pernah langsung
di dapat di alam sekitar. Lewat observasi ilmiah batu-batu sudah dikerjakan
sehingga dapat dipakai kemudian digolongkan menurut kelompok tertentu sehingga
dapat dipergunakan. Upaya ini tidak dilakukan dengan sewenang wenang, melainkan
merupakan hasil petunjuk yang menyertai susunan limas ilmu yang menyeluruh akan
makin jelas bahwa teori secara berbeda- beda meresap sampai dasar ilmu.
Hidayat
Nataatmaja menggambarkan dalam bahasanya sendiri mengenai hal tersebut di atas
bahwa “ilmu memiliki struktur dan struktur ilmu itu beberapa lapis. Beliau
membagi lapisan ilmu ke dalam 2 golongan/ kategori yaitu lapisan yang bersifat
terapan dan lapisan yang bersifat paradigmatik. Kedua kategori memiliki
karakter sendiri-sendiri. Lapisan terapan besifat praktikal dan lapisan
paradigmatik bersifat asumtif spekulatif.
Dalam
penerapannya, ilmu dapat dibedakan atas berikut di bawah ini:
- Ilmu Murni (pure science)
Yang
dimaksud dengan Ilmu murni adalah ilmu tersebut hanya murni bermanfaat untuk
ilmu itu sendiri dan berorientasi pada teoritisasi, dalam arti ilmu pengetahuan
murni tersebut terutama bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu
pengetahuan secara abstrak yakni untuk mempertinggi mutunya.
- Ilmu Praktis (applied
science)
Yang
dimaksud dengan ilmu praktis adalah ilmu tersebut praktis langsung dapt
diterapkan kepada masyarakat karena ilmu itu sendiri bertujuan untuk
mempergunakan hal ikhwal ilmu pengetahuan tersebut dalam masyarakat banyak.
- Ilmu Campuran
Yang
dimaksud dengan ilmu campuran dalam hal ini adalah sesuatu ilmu yang selain
termasuk ilmu murni juga merupakan ilmu terapan yang praktis karena dapat
dipergunakan dalam kehidupan masyarakat umum.
Sedangkan
dalam fungsi kerjanya, ilmu juga dapat dibedakan atas berikut ini:
- Ilmu teoritis rasional
Ilmu
teoritis rasional adalah ilmu yang memakai cara berpikir dengan sangat dominan,
deduktif dan mempergunakan silogisme, misalnya dogmatis hukum.
- Ilmu empiris praktis
Ilmu empiris
praktis adalah ilmu yang cara penganalisaannya induktif saja, misalnya dalam
pekerjaan social atau dalam mewujudkan kesejahteraan umum dalam masyarakat.
- Ilmu teoritis empiris
Ilmu
teoritis empiris adalah ilmu yang memakai cara gabungan berpikir,
induktif-deduktif atau sebaliknya deduktif-induktif.
Saat ini
tampaknya sebagian besar para pakar membagi ilmu atas ilmu-ilmu eksakta dan
ilmu-ilmu hukum yang pada satu titik tertentu sangat sulit dibedakan, namun
pada titik yang lain sangat berbeda satu sama lain.
Ilmu-ilmu
eksakta kesemuanya mempunyai objek fakta-fakta, dan benda-benda alam serta
hukum-hukumnya pasti dan tidak dapat dipengaruhi oleh manusia. Ilmu-ilmu
eksakta meliputi antara lain yaitu berbagai ilmu teknik (seperti teknik
permesinan kapal, nuklir, perminyakan, metalurgi, gas, petrokimia, informatika,
computer, planologi, kelautan, industry, pertambangan, kimia, sipil, mesin,
elektro, arsitektur, pertanian, geodesi, geologi, geofisika, dan meteorologi),
berbagai ilmu kedokteran (seperti kedokteran gigi, anak, penyakit dalam,
penyakit khusus, bedah, kebidanan, bedah mulut, kesehatan masyarakat,
keperawatan, kelamin, dan penyakit mata), berbagai ilmu alam (seperti
geofisika, bumi, ruang angkasa, dan pesawat), berbagai ilmu matematika (seperti
ilmu ukur ruang, ilmu ukur sudut dan aljabar), berbagai ilmu hewan (seperti
kedokteran hewan, biologi, lingkungan dan peternakan), berbagai ilmu
tumbuh-tumbuhan (seperti pertanian dan kehutanan), berbagai ilmu kimia, ilmu
tanah, ilmu komputer, farmasi, agronomi, geografi dan statistik.
Sedangkan
ilmu-ilmu sosial hukum-hukumnya relatif tidak sama dalam berbagai ruang dan
waktu, dibandingkan ilmu-ilmu eksakta (ilmu pasti) dalam arti selalu ada
perubahan yang tergantung pada situasi dan kondisi dan lingkungan, bahkan bisa
dipengaruhi dan diatur (rekayasa) oleh manusia. Ilmu-ilmu social meliputi
antara lain berbagai ilmu administrasi (seperti administrasi pembangunan,
Negara, fiskal, niaga, kepegawaian dan perkantoran), berbagai ilmu ekonomi
(seperti ekonomi pertanian, mikro, makro, social, akuntansi dan keuangan),
berbagai ilmu hukum (seperti hukum perdata, hukum pidana, hukum adat, hukum
islam dan hukum waris), serta disiplin ilmu social lainnya seperti ilmu
politik, ilmu pemerintahan, ilmu jiwa (psikologi), sosiologi, jurnalistik,
perhotelan, kepariwisataan, sejarah, antropologi, arkeologi, komunikasi,
manajemen, akuntansi, perpustakaan, hubungan internasional dan ilmu negara.
2. Jenis –
jenis Ilmu pengetahuan dan sifatnya
a. Jenis
jenis Ilmu Pengetahuan
Sehubungan
dengan adanya berbagai sumber, sifat-sifat, karakter dan susunan ilmu
pengatahuan, maka dalam pandangan tentang ilmu pengetahuan itu orang
mengutarakan pembagian ilmu pengetahuan (classification). Ini tergantung
kepada cara dan tempat para ahli itu meninjaunya. Menurut pembagian klasik,
maka ilmu pengetahuan dibedakan atas:
- Natural Sciences (kelompok
ilmu-ilmu alam)
- Social Sciences (kelompok
ilmu-ilmu sosial)
Sedang Dr.
C. A. Van Peurson membedakan ilmu pengetahuan atas:
- Ilmu pengetahuan kemanusiaan
- Ilmu pengetahuan alam
- Ilmu pengetahuan hayat
- Ilmu pengetahuan logic-deduktif
Di dalam
Undang-Undang Pokok Pendidikan tentang Perguruan Tinggi Nomor: 22 Tahun 1961 di
Indonesia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan atas empat kelompok sebagai
berikut:
- Ilmu Agama/Kerohanian, yang
meliputi:
- Ilmu agama
- Ilmu jiwa
- Ilmu Kebudayaan, yang
meliputi:
- Ilmu
sastra
- Ilmu
sejarah
- Ilmu
pendidikan
- Ilmu
filsafat
- Ilmu
Sosial, yang meliputi:
- Ilmu
hukum
- Ilmu
ekonomi
- Ilmu
sosial politik
- Ilmu
ketatanegaraan dan ketataniagaan
- Ilmu
Eksakta dan Teknik, yang meliputi:
- Ilmu
hayat
- Ilmu
kedokteran
- Ilmu
farmasi
- Ilmu
kedokteran hewan
- Ilmu
pertanian
- Ilmu
pasti alam
- Ilmu
teknik
- Ilmu
geologi
- Ilmu
oceanografi
Pengklasifikasian
ilmu pengetahuan menurut subjek dan objeknya:
- Menurut Subjeknya
1. Teoritis
a) Nomotetis: ilmu yang menetapkan
hukum-hukum yang universal berlaku, mempelajari objeknya dalam keabstrakan dan
mencoba menemukan unsur-unsur yang selalu terdapat kembali dalam segala
pernyataan yang konkrit bilamana dan dimana saja. Misalnya, ilmu alam, ilmu
kimia, sosiologi, ilmu hayat.
b) Ideografis (ide: cita-cita, grafis:
lukisan), ilmu yang mempelajari objeknya dalam konkrit menurut tempat dan waktu
tertentu, dengan sifat-sifatnya yang menyendiri (unik), misalnya: ilmu sejarah,
etnografi (ilmu bangsa-bangsa), sosiografi, dsb.
2. Praktis
(Applied
Science/ Ilmu Terapan): Ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau
pengalaman pengetahuan itu, jadi menentukan bagaimanakah orang harus berbuat
sesuatu. Maka ini pun diperinci lebih lanjut yaitu:
a) Normatif, ilmu yang memesankan
bagaimanakah kita harus berbuat, membebankan kewajiban-kewajiban dan
larangan-larangan, misalnya: etika (filsafat kesusilaan/ filsafat moral).
b) Positif (“applied” dalam arti
sempit): ilmu yang mengatakan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu,
mencapai hasil tertentu, misalnya: ilmu pertanian, ilmu teknik, ilmu
kedokteran,sb.
- Menurut Objeknya (terutama
objek formalnya atau sudut pandangnya)
- Universal/ umum: meliputi
keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusia, misalnya: Teologi/agama dan
Filsafat.
- Khusus: hanya mengenai salah
satu lapangan tertentu dari kehidupan manusia, jadi objek terbatas, hanya
ini saja atau itu saja. Inilah yang biasa disebut “ Ilmu Pengetahuan ”.
ini diperinci lagi atas:
a)
Ilmu-ilmu alam (natural science, natuurwetenscappen): yang mempelajari
barang-barang menurut keadaannya di alam kodrat saja, terlepas dari pengaruh
manusia dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang terjadi di dalam alam,
jadi terperinci lagi menurut objeknya, misalnya: ilmu alam, ilmu fisika, ilmu
kimia, ilmu hayat, dsb.
b)
Ilmu pasti (Mathmatics), yang memandang barang-barang, terlepas dari isinya
hanya menurut besarnya. Jadi mengadakan abstraksi barang-barang itu. Ilmunya
dijabarkan secara logis berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma).
Misalnya, ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu aljabar,dsb.
c)
Ilmu-ilmu kerohanian/kebudayaan (Geisteswissen-schaf-ten/social-science). Ilmu
yang mempelajari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang mementukan.
Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas dari
manusia, melainkan justru sekedar mengalami pengaruh dari manusia. Dan karena
manusia berbuat dengan berdasarkan kekuatan jiwanya dan jiwa dalam Bahasa
Jerman disebut “Geist”, maka gerombolan ilmu-ilmu yang memandang perbuatan
manusia dan hasil-hasil kegiatannya itu disebut “Geisteswissenscaften”.
Misalnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu
sosiologi, ilmu Bahasa, dsb.
b.
Sifat-sifat Ilmu Pengetahuan
Sejarah
membuktikan, bahwa dengan metode ilmu, akn membawa manusia kepada kemajuan
dalam pengetahuannya. Kemajuan dalam pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu itu
memungkinkan, karena beberapa sifat, atau cirri khas yang dimiliki oleh ilmu.
Dalam hal
ini, Randall mengemukakan beberapa ciri umum daripada ilmu, di antaranya ialah:
- Hasil ilmu sifatnya akumulatif
dan merupakan milik bersama. Artinya, hasil daripada ilmu yang telah lalu
dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru, dan
tidak menjadi monopoli bagi yang menemukannya saja, setiap orang dapat
menggunakan, memanfaatkan hasil penyelidikan atau hasil penemuan orang
lain.
- Hasil ilmu, kebenarannya tidak
mutlak, dan bisa terjadi kekeliruan, karena yang menyelidikinya adalah
manusia. Namun yang perlu diketahui, kesalahan-kesalahan itu bukan karena
metodenya, melainkan terletak pada manusia yang menggunakan metode
tersebut.
- Ilmu itu objektif, artinya
prosedur cara penggunaan mtode ilmu tidak tergantung kepada yang
menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi. Berbeda
dengan prosedur otoritas dan intuisi, yang tergantung kepada pemahaman
secara pribadi.
Selanjutnya,
Ralph Ross dan Ernest Van den Hagg yang disunting oleh Prof. Drs. Harsojo,
mengemukakan ciri-ciri umum daripada ilmu, yaitu:
- Bahwa ilmu itu rasional
- Bahwa ilmu itu Bersifat empiris
- Bahwa ilmu itu Umum
- Bahwa ilmu itu Akumulatif
Ilmu
dikatakan rasional, karena ilmu merupakan hasil dari proses berpikir dengan
menggunakan akal, atau hasil berpikir secara rasional.
Pada
umumnya, orang-orang menggolongkan filsafat itu pasti ke dalam ilmu-ilmu
pengetahuan. Walaupun filasafat iu muncul sebagai salah satu ilmu pengetahuan,
akan tetapi ia mempunyai struktur tersendiri dan tidak dapat begitu saja
dianggap sebagai “ilmu pengetahuan”.
Tentu saja
sedikit banyak bagi setiap ilmu pengetahuan berlaku, bahwa ilmu itu mempunyai
struktur dan karakteristik tersendiri. Studi tentang ilmu kedokteran adalah
sesuatu yang berbeda sekali dengan sejarah kesenian, dan ilmu pasti/matematika
sesuatu yang berlainan sekali dengan ilmu pendidikan. Akan tetapi untuk
filsafat, hal yang “tersendiri” ini berlaku dengan cara yang dasarnya lain.
3.
Batasan-batasan Pengkajian Ilmu Pengetahuan
Apakah
batasan yang merupakan lingkup penelajahan ilmu? Dimanakah ilmu berhenti?
Apakah yang menjadi karakter objek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dan pengetahuan
pengetahuan yang lain? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah sederhana:
ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas
pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari ikhwal surga dan neraka. Sebab
ikhwal surga dan neraka berada diluar Jangkauan pengalaman manusia. Ilmu tidak
mempelajari sebab musabab terciptanya manusia sebab kejadian itu terjadi diluar
jangkauan pengalamann manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita,
maupun hal-hal yang terjadi setelah kematian manusia, semua itu berada di luar
penjelajahan ilmu.
Ilmu hanya
membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena
fungsi ilmu sendiri dalam hidup manusia yaitu sebagai alat bantu manusia dalam
menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai
hari kemudian tidak akan kita tanyakan pada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab
agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu.
Ilmu
membatasi batas penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan
pada metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah diuji kebenarannya
secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman
empirisnya, maka pembuktian metodologis tidak dapat dilakukan.
Ilmu tanpa
bimbingan moral agama adalah buta. Kebutaan moral dari ilmu mungkin membawa
kemanusiaan ke jurang malapetaka. Contoh penyalahgunaan teknologi nuklir
yang telah merenggut jutaan jiwa.
Ruang
penjelajahan keilmuan kemudian kita menjadi “kapling kapling” berbagai
disiplin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai dengn
perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Dahulu ilmu dibagi menjadi dua,
ilmu alam dan ilmu sosial. Kini telah terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
Oleh karena itu, seorang ilmuwan harus tahu benar batas-batas penjelajahan
cabang keilmuan maing-masing.
Mengenai
batas-batas kapling ini, disamping menunjukkan kematangan keilmuan dan
profesional kita, juga dimaksudkan agar kita mengenal tetangga-tetangga kita.
Dengan makin sempitnya daerah penjelajahan suatu bidang keilmuan, maka
sering sekali diperlukan “pandangan” dari disiplin-disiplin yang lain.
Saling pandang memandang ini atau pendekatan multi disipliner,
membutuhkan pengetahuan tentang tetangga-tetangga yang berdekatan. Artinya harus
jelas bagi semua, dimana disiplin seseorang berhenti dan dimana disiplin orang
lain mulai. Tanpa kejelasan batas-batas ini maka pendekatan multi disipliner
akan berubah menjadi sengketa kapling.
4.Ontologi
Pengatahuan
Tokoh yang
membuat istilah ontologi adalah Cristian Wolff (1679-1714).Istilah ontologi
berasal dari bahasa yunani, yaitu ta onta bararti”yang barada”, dan
logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, antologi adalah
ilmu paengetahuan atau ajaran tentang yang berbeda. Adapun dapat diartikan juga
yaitu, antologi adalah ilmu yang mencari asensi dan eksentasi yang terakhir.
Antologi adalah bagian dari Metafisika.
Persoalan
dalam keberadaan menurut Ali Mudhofir (1996) ada tiga pandangan, yang
masing-masing menimbulkan aliran yang berada. Tiga segi pandangan itu adalah
sebagai berikut.
1
. Keberadaan Dipandang dari Segi Jumlah (Kuantitas)
Keberadaan
dipandang dari segi jumlah (Kuantitas), artinya berapa banyak kenyataan yang
paling dalam itu. Pandangan ini malahirkan beberapa aliran filasafat sebagai
jawabannya, yaitu sebagai berikut.
a.
Monisme
Aliran yang
menyataknan bahwa hanya satu kenyataan yang fundamental. Kenyataan tersebut
dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau subtansi lainnya yang tidak dapat diketahui.
Tokohnya antara lain: Thales (625-545 SM) yang berpendapat bahwa kenyataan yang
terdalam adalah sebuah subtansi, yaitu air. Aniximander (610-547 SM)
berkeyakinan bahwa yang merupakan kenyataan terdalam adalah Aperion, yaitu
sesuatu yang tanpa batas, tidak dapt ditentukan dan tidak memiliki persamaan
dengan salah satu benda yang ada dalam dunia .
Anaximenes
(585-528 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang
sedalam-dalamnya adlah udara. Filuf modern yang ternasuk monisme adalah
B.Spinoza, berpendapat bahwa hanya ada satu subtansi, yaitu Tuhan. Dalam hal
ini Tuhsn dididentikkan dengan alam (naturans naturata).
b.
Dualiasme (Serba Dua)
Aliran yang
menganggap adanya dua subtabsi yang masing-masing berdiri sndiri. Tokoh-tokoh
yang termasuk aliran ini adalah Plato (428-348 SM), yang membadakan dua dunia,
yaitu dunia indra (bayang-bayang) dan dunia ide (dunia yang terbuka bagi rasio
manusia). Rene Descrates (1596-1650 M) yang membedakan subtansi pikiran dan
subtabsi keluasan. Leibniz (1646-1716 M) yang membadakan antara dunia dunia
yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Imanuel Kant (1724-1804) yang
membedakan antara dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (naumena).
c.
Pluralisme (Serba Banyak)
Aliran yang
tidak mengakui adanya satu subtansi atau dua subtansi melainkan banyak
subtansi. Para filsuf yang termasuk pluralisme diantaranya Empedokles (490-430
SM) yang mrnyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri atas 4 unsur, yaitu udara,
api, air, dan tanah. Anaxagoras (500-428 SM) yang menyatakan bahwa
hakikat hakikat kenyataan terdiri atas unsur-unsur yang tidak terhitungg
banyaknya, sebanyak sejumlah sifat benda dan semuanya dikuasai oleh suatu
tenaga yang dinamakan nous. Dikataknnya bahwa nous adalah suatu zat yang
paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur.
2.
Keberadaan Dipandang dari Segi Sifat (Kualitas)
Keberadaan
dipandang dari segi sifat (kualis) menimbulkan beberapa aliran sebagai barikut.
a.
Spiritualisme
Spiritualisme
mengandung beberapa arti, yaitu:
- Ajaran yang menyatakan bahwa
kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nous, Reason, Logos),
yakni roh yang mendasari dan mengisi seluruh alam. Spirituliasme dalam
arti ini dilawankan dengan materialisme.
- Kadang-kadang dikenakan pada
pandangan idealistis yang menyatakan adanya roh mutlak. Dunia indra dalam
pengertian ini sebagai dunia ide.
- Dipakai dalm istilah keagamaan
untuk menekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama.
- Kepercayaan bahwa roh orang
mati berkomunikasi dengan roh orang yang masih hidup melalui perantara
atau orang tertenntu dan melalui bentuk wujud yang lain. Istilah
spiritualisme lebih tepat dikenakan bagi kepercayaan semacam ini. Aliran
spiritualisme juga disebut idealisme (serba cita). Tokoh aliran ini diantaranya
Palto dengan ajarannya tentang idea(cita) dan jiwa. Idea atau cita adalah
gambaran asli segala benda. halSemua yang ada dalam dunia
hanyalah penjelmaan atau bayangan saja.
b. Materialisme
Adalah
pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang nyata kecuali materi.
Pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan materi yang dapat dikembalikan pada
unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu yang kelihatan, dapat diraba,
berbentuk, dan menempati ruang. Hal-hal yang bersifat keharmonian seperti
pikiran, jiwa, keyakinan rasa sedih, dan rasa senang tidak lain hanyalah
pengungkapan proses kebendaan.
Tokoh aliran
ini antara lain Demokritos (460-370 SM), Berkeyakinan bahwa alam semesta
tersusun atas atom-atom kedil yang memiliki bentuk dan badan. Atom ini
mempunyai sifat yang sama, perbedaannya hanya hanya besar, bentuk, dan
letaknya. Thomas ahobbes (1588-1679) berpendapat bahwa segala sesuatu
yang terjadi di dunia merupakan gerak dari materi. Termasuk juga pikiran,
perasaan adalah gerak materi belaka karena segala sesuatu yang terjadi dari
benda-benda kecil. Bagi Thomas Hobbes, filsafat sama dengan ilmu yang
mempelajari benda-benda.
3.
Keberadaan Dipandang dari Segi Proses, Kejadian, atau Perubahan
Aliran yang
berusaha menjawab persoaaln ini adalah sebagai berikut.
a.
Mekanisme
Menyatakan
bahwa semua gejala dapat dijelaskan berdasarkan asas-asas mekanik(mesin). Semua
peristiwa adalah hasil dari materi yang bergerak dan dapat dijelaskan menurut
kaidahnya. Aliran ini jua menerangkan semua peritiwa berdasar pada sebab kerja
(efficient cause), yang dilawankan sebab tujuan (final cause).
Alam dianggap sebuah mesin yang keseluruha fungsinya ditentukan secara otomatis
oleh bagian-bagiannya.
Pandangan
yang bercorak mekanistik dalam kosmologi pertama kali diajukan oleh Leucippus
dan Demokritus yang berpendirian bahwa alam dapat diterangkan berdasarkan pada
atom-atom yang bergerak dalm ruang kosong. Pandangan ini dianut oleh Galileo
Galilei (1564-1641) dan filsuf lainnya dalam abad ke-17 sebagai filsafat
mekanik.
b.
Teleologi (Serba- Tujuan)
Berpendirian
bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab akibat, akan
tetapi sejak semula memang ada suatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan
alam kesuatu tujuan.
Plato
membedakan antaa idea dan materi. Tujuan berlaku di dalm ide, sedangkan kaidah
sebab-akibat berlaku dalm materi.
Menurut
Aristoteles, untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya kita harus
memahami empat sebab, yaitu sebab bahan (materia cause), sebab
bentuk (formal cause), sebab kerja (efficient cause), dan sebab
tujuan (final cause). Sebab bahan adalah bahan yang menjadikan sesuatu
itu ada; sebab bentuk adalah yang menjadikan sesuatu itu berbentuk; sebab kerja
adalah yang menyebabkan bentuk itu bekerja atas bahan; sebab tujuan adalah yang
menyebabkan tujuan semat-mata karena perubahan tempat atau gerak. Dibidang ini
semata-mata berkuasa yang kaidah sebab akibat yang pasti. Sebaliknya, segala
kejadian tujuannya adalah menimbulkan sesuatu bentuk atau sesuatu tenaga.
Namun, di katakan juga bahwa kegiatan alam maengandung suatu tujuan. Sehubungan
dengan masalah ini kaidah sebab akibat hanyalah alat bagi alam untuk mencapai
tujuannya.
c.
Vitalisme
Memandang
bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya secara fisika-kimiawi, karena
Hakikatnya
berbeda dengan yang tidak hidup. Filsuf vitalisme seperti Henry Bergson
(1859-1941) menyebutkan elan vital. Dikatakannya bahwa ela vital merupakan
sumber dari sebab kerja dan perkembangan dalam alam. Asas hidup ini mamimpin dan
mengatur gejala hidup dan menyesuiakannya dengan tujuan hidup. Oleh karena itu,
vitalisme sering juga dinamakan finalisme.
Organisme,
aliran ini biasanya dilawankan dengan mekanisme dan vitalisme. Menurut
organisisme, hidup adalah suatu sturktur yang dinamis, suatu kebetulan yang
yang memiliki bagian yang heterogen, akan tetapi yang utama adalah adanya
sistem yang teratur. Semua bagian bekerja dibawah kebulatannya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ternyata
ilmu pengetahuan tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan. Sebagai seorang
pengguna ilmu pengetahuan kita sering berprasangka bahwa ilmu pengetahuan hanya
berkutat pada teori, riset, dan rekayasa perkembangan teknlogi
Ilmu
pengetahuan ternyata merupakan sebuah dunia yang memiliki karakter dasar,
prinsip, dan struktur yang kesemuanya itu menentukan arah dan tujuan
pemanfaatan ilmu.
Karakter
dasar, prinsip dan struktur ilmu pengetahuan dibangun oleh para pendiri sains
modern, dimana pada saat itu para pendiri sains modern menyadari bahwa hidup manusia
memiliki tujuan yaitu membangun peradaban ummat manusia dan untuk mencapai
tujuannya itu manusia membutuhkan alat. Dan alat itu adalah ilmu pengetahuan.
Ontologi
ilmu pengetahuan dalam filsafat ilmu adalah suatu yang sangat penting karena
segi lapis terdalam dari fondasi dunia itu pengetahuan. Ia adalah sebuah ruang
tempat diletakkannya “Undang-undang dasar dunia ilmu pengetahuan”.
Disanalah ditetapkannya kearah manakah Sains Modern menuju dan kita sebagai
seorang pengguna, sadar atau tidak adalah orang-orang yang sedang bersama-sama
bergerak menuju arah yang sudah ditetapkan oleh para pendiri sains modern.
B. Saran
Demikianlah
pembahasan kelompok kami tentang Ontologi Ilmu pengetahuan. Pembahasan kami
hanya merunut dimanakah posisi dan peran ontologi dalam dunia keilmuan.
Kami sadari
dalam makalah ini masih banyak kekurangan sehingga kami sebagai penyaji memohon
saran dan kritik pembangun, sebagai alat pacu perbaikan bagi kami. Demikian lah
penyajian kami atas perhatiannya kami sampaikan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
- Beekman,Gerard
dan R.A Rivai. 1973. Filsafat Para Filsuf Berfilsafat.Jakarta:Penerbit
Erlangga
- Syafii,Inu
Kencana. 2004. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama
- Lanur,Alex
OFM.1993.Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. Jakarta:PT
Gramedia Pustaka Utama
- Salam,
Burhanuddin. 2005. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara
- Surajiyo.2008.Ilmu
Filsafat Suatu Pengantar.Jakarta:PT.Bumi Aksara.
- A.Wiramihardja,Sutarjo.2007.Pengantar
Filsafat.Bandung:PT.Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar